Senin, 23 Mei 2016

[RESENSI] THE MAGIC THIEF by SARAH PRINEAS


"PENCARIAN BATU SIHIR"
(The Magic Thief Series #1)
Text copyright © 2008 by Sarah Prineas
Illustrations copyright © 2008 Antonio Javier Caparo
Penerbit: PT. Bhuana Ilmu Populer
Penerjemah: Diana Angelica
Cetakan pertama: Agustus 2010
ISBN 13: 978-979-074-228-4
343 hlm


S I N O P S I S

Jangan pernah mencopet penyihir!
Conn seharusnya mati pada saat dia mencopet Locus Magicalicus Nevery, sebongkah batu yang digunakan untuk memfokuskan dan menghasilkan sihir. Tapi untuk beberapa alasan, dia tidak mati! Karena penasaran Nevery mengangkat Conn menjadi murid sihirnya. Syaratnya, bocah itu harus bisa menemukan Locus Magicalicusnya sendiri dalam waktu tiga puluh hari. Sanggupkah Conn memenuhi syarat itu?





R E S E N S I

Sampul buku memang tidak bisa dijadikan patokan untuk menarik atau tidaknya sebuah buku. Namun bagi saya, sampul buku punya andil besar dalam menentukannya. Dan dalam kasus ini, saya justru tertarik dengan karya Sarah Prineas karena sampul bukunya, ditambah adanya peta dan beberapa ilustrasi.

Tema anak-anak dan sihir tentu saja tidak bisa lepas dari bayang-bayang kisah Harry Potter dan kedua sahabatnya. Perpaduan mantra sihir dan juga lambaian tongkat yang tepat akan menghasilkan sihir yang luar biasa. Namun, dalam petualangan Conn tidak ada tongkat, yang ada hanya batu--Locus Magicalicus.

Petualangan Conn diawali saat ia mencuri dari seorang pria tua dengan mantel lusuh. Bukannya uang, justru bencana yang ia dapatkan. Conn seharusnya mati saat mencuri Locus Magicalicus milik Nevery Flinglas, seorang penyihir yang baru saja kembali ke Wellmet setelah diasingkan selama 20 tahun, namun Conn hanya pingsan. Nevery penasaran, kemudian memutuskan untuk menjadikan Conn sebagai murid sihirnya. Namun dengan syarat, Conn harus menemukan Locus Magicalicusnya sendiri dalam waktu tiga puluh hari. Sanggupkah? Dan keputusan Nevery berimbas besar tidak hanya bagi kehidupan Conn, tapi juga kelansungan hidup kota Wellmet.

Saya suka karakter yang diciptakan penulis untuk tokoh utama, seorang pencopet yang tidak hanya mahir mencopet tetapi juga ahli membuka kunci. Seorang remaja usia belasan yang sangat pintar dan kritis namun terjebak ke dalam kehidupan gelap Twilight--daerah di Wellmet yang kumuh dan penuh kejahatan--tanpa pendidikan dan juga bimbingan orangtua. Namun terlalu ingin tahu dan keras kepala.
"Kurasa bukan seperti itu, Nevery. Mantra adalah sebuah bahasa, dan kita menggunakannya untuk memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh sihir itu." -Conn (hlm 243)
Pada bab-bab awal saya dibuat cukup jenuh dengan jalan cerita yang terlalu datar. Tetapi justru jatuh cinta disepertiga akhir. Petualangan Conn dalam memecahkan misteri hilangnya sihir di Wellmet sekaligus mencari Locus Magicalicusnya mengasikkan untuk diikuti. Tidak seperti Harry Potter yang memiliki Ron dan Hermione yang selalu setia menemani, Conn harus berjuang sendiri untuk menentukan nasib dan masa depannya--Rowan dan Keeston belum bisa dibilang sahabat. Namun saya suka ide penulis dalam menggambarkan sihir melalui tokoh utama. Sihir adalah makhluk hidup yang memiliki bahasanya sendiri, layaknya manusia, hewan, maupun tumbuhan.


C O V E R - L A I N



RATTING 3 of 5

<< SARAH PRINEAS >>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Blogger templates

Comments

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *